MULTIBET adalah agen bola dan agen judi online SBOBET, IBCBET, CASINO, POKER dan BOLA TANGKAS... Terima kasih telah memilih kami sebagai agen terpercaya Anda.. Kepercayaan Anda kepada kami adalah jalan utama kami untuk menjadi yang Terbaik, Terbesar dan Terpercaya.

Setiap Deposit Bonus 5% SBOBET, IBCBET, 368BET, CASINO SBOBET, ASIA8BET, dan 10% BOLA TANGKAS

Customer Service

Akses Multibet88 Via Ponsel

Safesite – Bet Explorer


Rudi Garcia, Gladiator Baru Pemikul Revolusi Roma – Optimisme tengah melambung tinggi di sisi merah ibukota Italia. Para serigala AS Roma tengah dalam konfidensi solid dan itu adalah buah dari kehadiran seorang arsitek Prancis nan flamboyan, Rudi Garcia.

Bukan hal mudah merebut hati para pecinta sepakbola di kota abadi, entah itu di Lazio maupun Roma. Seperti banyak diketahui, barisan tifosi kedua tim sangat anti dengan klub-klub dari area utara macam Turin dan Milan, namun mereka justru lebih membenci rival di sisi seberang kota. Maka tak heran jika tuntutan dan ekspektasi besar selalu dilayangkan para suporter, terutama garis keras, pada performa tim.

Di kubu Roma, revolusi yang dicanangkan pemilik baru asal Amerika Serikat ternyata tak berjalan mulus. Dua musim dalam penanganan dua nahkoda berbeda, berlalu tanpa prestasi, bahkan bisa dibilang jauh dari memuaskan. Usaha menjiplak filosofi Barcelona dengan mendatangkan Luis Enrique berakhir buruk. Pun demikian dengan pemanggilan kembali Zdenek Zeman yang sempat menghadirkan antusiasme dengan paham Zemanlandia nan ofensif, tetapi berbuah bencana di sisi defensif. Dari dua musim tersebut, Giallorossi bahkan tak bisa menembus posisi empat besar, apalagi zona Liga Champions.

Maka tak heran jika kehadiran Rudi Garcia di awal musim ini diikuti aroma pesimisme, terlebih jika mengingat reputasi mautnya bersama Lille tak bergema di Italia dan dia disebut bukan pilihan pertama Roma. Bahkan kedatangannya disambut sebuah polling di Il Corriere dello Sport yang mengklaim 53,4 persen fans tak yakin ia sosok tepat untuk tim. Tetapi ia mampu membalikkan keadaan tersebut dengan hasil dan form fenomenal – Roma bertengger di puncak klasemen Serie A hingga giornata keenam dengan rekor 100 persen kemenangan alias catatan start terbaik dalam sejarah klub. Selain itu mereka meraihnya dengan permainan ofensif nan atraktif yang selama ini diidamkan oleh fans.

Sukses Garcia menaklukkan ruang ganti I Lupi dan juga tifosi Roma, mungkin tak lepas dari gayanya yang santai tetapi tetap disiplin. Dikenal sebagai gitaris rock paruh waktu di masa senggangnya, kepribadiannya yang eksentrik tetapi penuh disiplin pun tergambar jelas di atas lapangan. Sama seperti di Les Dogues, ia membebaskan anak asuhnya berekspresi di lapangan karena ia percaya ‘seorang pelatih adalah aktor’ dan itu terbukti ampuh mengeluarkan kemampuan terbaik para serigala Roma.

Meski terkesan ramah dan terbuka pada media, pria 49 tahun ini justru sosok yang keras jika berhubungan dengan kepentingan tim. Ia mau mengambil keputusan apapun yang diperlukan untuk menuntaskan tugasnya. Itu sebabnya dia sempat dipecat dari Lille karena berseteru dengan general manager Xavier Thuillot, sebelum presiden klub Michel Seydoux mengangkatnya kembali karena tuntutan fans dan para pemain – bukti bahwa dukungan mengalir untuknya dari pihak-pihak yang mencintai klub, dan kondisi tersebut hampir serupa di kota Roma.

Terkenal sebagai figur yang selalu melindungi para pemainnya, Garcia mampu membangun tim yang dikombinasikan para pilar senior berpengalaman dengan para pemain baru penuh potensi. Tak seperti dua pendahulunya yang menepikan beberapa pemain kunci, Garcia mempercayai kembali Miralem Pjanic dan Daniele De Rossi untuk mengawal perkembangan berlian muda penuh prospek Kevin Strootman di lini tengah. Dalam bingkai taktiknya, sang ikon Francesco Totti pun tampil prima di usia senjanya dengan melesat ke daftar atas penyumbang assist di Serie A. Tak hanya itu, lini belakang Roma pun tampak lebih solid dengan kehadiran Mehdi Benatia dan kian mapannya Leandro Castan di jantung pertahanan, ditunjang pengalaman kiper veteran Morgan De Sanctis di bawah mistar gawang.

Banyak pihak menyebut sukses Roma sejauh ini belumlah teruji karena mereka baru menghadapi tim-tim di bawah level mereka. Tapi publik Roma sudah jatuh cinta dengan Garcia saat ia memproklamirkan diri sebagai tifosi die-hard Roma lewat komitmen dan pernyataannya jelang derby kontra Lazio bulan lalu: “Derby tidaklah untuk dimainkan, melainkan untuk dimenangkan.” Dan setelah timnya menang mutlak 2-0 demi membalas kekalahan pahit di final Coppa Italia empat bulan sebelumnya, Garcia tak ragu bergandengan tangan dengan anak asuhnya untuk melakukan selebrasi di depan para penghuni Curva Sud. Setelah laga, ia pun mengklaim: “Mulai sekarang, saya adalah salah satu dari kalian. Saya adalah Romanista.” Hal itu saja sudah cukup untuk membuat para fans balik mencintainya, terlebih jika ia mampu membawa Roma mengukir prestasi di akhir musim nanti.

Meski optimisme melangit di kamp Trigoria, Garcia tak mau fans dan para pemain terlena dalam ekspektasi yang terlalu tinggi. Ia berusaha meredamnya dengan menegaskan jika target Roma musim ini hanyalah finis di lima besar dan lolos ke kompetisi Eropa musim depan – sebuah tujuan yang tampaknya tak sulit diraih jika Roma mampu mempertahankan konsistensi musim ini, apalagi fokus mereka tak teralihkan dengan kompetisi Eropa yang menyita energi.

Sama seperti di Lille, tantangan besar masih menanti Garcia di masa depan dengan ambisi klub membangun stadion sendiri. Namun sama seperti Arsenal, mereka mampu meraih sukses pula di luar lapangan dengan sejumlah sponsorship besar. Jika di Lille ia mampu memberikan gelar juara liga pertama untuk klub sejak 1954 dengan memoles skuat yang bisa dibilang tak berkelas bintang, maka di Roma ia seharusnya bisa memberikan lebih karena ia mewarisi skuat yang merupakan salah satu terbaik di Italia saat ini.

Dengan performa dan hasil sejauh ini, tampaknya Roma sudah menemukan sosok yang tepat untuk membawa klub kembali ke jalur juara. Seperti digambarkan direktur Walter Sabatini di saat sesi perkenalannya, Garcia adalah ‘sintesis dari pelatih yang pernah kami miliki (Enrique dan Zeman] serta mereka yang bisa saja kami dapatkan (Walter Mazzarri dan Massimiliano Allegri).’ Itu artinya pelatih Prancis pertama dalam sejarah klub itu adalah sosok yang realistis namun juga romantis, disiplin sekaligus pemimpi – keseimbangan yang pas untuk menghadirkan hasil bagus dalam proyek besar Roma.

Hanya waktu yang akan membuktikan sampai sejauh mana Garcia mampu memandu para serigala Roma. Namun apapun yang terjadi di akhir musim, setidaknya saat ini ia sudah memberikan mimpi manis untuk fans dan juga sinyal pada para rival jika ia datang dan berniat menaklukkan Serie A, sebagaimana disuarakan kubu Roma … Veni Rudi Veci!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembaca Multibet88 Menyukai Berita Tentang :  Shinji Kagawa Menjelma Ninja di Old Trafford

Untuk Prediksi Terupdate Silahkan Pada Website Multibet88 Lainnya Disini :Multibet88.biz

It's only fair to share...

DIrekomendasikan